image

"PACARAN" dalam ISLAM ? Boleh kok

Istilah pacaran pasti sudah amat sangat tidak asing bagi kita semua, apalagi buat para remaja yang secara psikologis sedang mengalami masa puber. Mulai timbul rasa ketertarikan dengan lawan jenis. 
Lalu, pacaran itu apa?


Sepengetahuan saya
-maaf kalau saya salah, karena saya belum pernah pacaran- 
pacaran pada umumnya adalah hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, didasari rasa saling suka dan sudah menyatakannya, namun tidak sah secara agama maupun hukum negara. 

Saya menuliskan “didasari rasa saling suka” bukan cinta. Karena suka itu bisa berarti suka fisiknya, hartanya, kepandaiannya dan sebagainya. Sedangkan cinta itu tidak terpaku hanya pada fisik, harta, namun, secara keseluruhan menerima apa adanya. Selain itu, “tidak sah secara agama maupun hukum negara”, jelas karena di Islam pun tidak ada kewajiban untuk pacaran dan dalam peraturan negara juga tidak ada.

Lalu, bagaimana dengan istilah pacaran islami? Pacaran yang, hmmm, well, tidak berdua-duaan, intinya tidak bermesra-mesraan, hanya smsan, tapi keduanya sudah menyatakan saling suka. Banyak juga yang melakukannya dengan alasan “kan tidak pegang-pegangan, jadi gak apa2.”

Saya juga sempat berpikir, pacaran itu dosa gak sih?
Mungkin kita pernah mendengar atau membaca “Janganlah kamu mendekati zina”
Apakah pacaran itu mendekati zina?

Di sini, saya tidak akan men-judge apakah pacaran itu dosa atau tidak, tergantung waktu dari pacaran itu sendiri. 

Namun, perlu untuk kita merenungi apakah pacaran itu benar-benar membawa manfaat yang nyata bagi kita?

Saya pernah melakukan penelitian kecil-kecilan, menanyai beberapa teman dan adik-adik kelas bahkan kakak kelas, apa sih manfaat dari pacaran? Rata-rata mereka menjawab :
1. Ada yang menyemangati kita saat kita down. Ada yang menghibur kita dan memberi perhatian bagi kita
2. Sumber motivasi dalam belajar, kalau si doi lebih pinter dari kita, kita akan termotivasi untuk bisa pinter juga. Siapa tau ketularan pinternya
3. Untuk mengetahui tipe wanita yang diinginkan, karena dengan pacaran, kita mengetahui sifat-sifat pasangan kita dan sebelum menikah bisa memutuskan apakah ia cocok dengan diri kita.
4. Temen curhat, temen jalan, buat have fun lah
5. Bisa dibeliin macem2 ama pacar, sering dikasih hadiah, dibeliin pulsa, ditraktir (ini sih matre ya)
6. Lain-lain...

Nah, dari data di atas, coba kita analisis satu-persatu.
1. Penyemangat, penghibur dan pemerhati.
Sebenarnya, bukan hanya pacar saja yang bisa menyemangati kita, menghibur dan memberi perhatian kepada kita. Ada orang tua, sahabat, keluarga. Misalkan, kita sedang tidak bersemangat dalam belajar, lalu sang pacar sms atau telpon mengingatkan kita untuk belajar dan semangat, lalu kita pun jadi bersemangat. 

Benarkah seperti itu? Kenapa disaat kita kurang semangat belajar kita tidak mencari sumber penyemangat yang lebih tepat, nyata dan mengena. Coba pikirkan orang tua kita yang sudah membiayai kita sekolah atau kuliah. Kalau kita malas belajar, kita akan mengecewakan mereka. Sia-sia mereka membiayai kita. Mereka rela mengorbankan apapun untuk menyekolahkan kita. Tidak cukupkah alasan itu agar kita tetap semangat belajar dan menjalani kehidupan?

Selain itu, bukankan ada penyemangat yang lebih DAHSYAT? Siapa itu? Penyemangat yang mampu memberi lebiih dari sekedar perhatian, dan tidak ada yang bisa menandingi sayang yang diberikan? Dialah Sang Maha Cinta, Allah ta’ala!! Kurangkah? Bukankah Allah memberikan kasih sayang yang nyata bagi kita melebihi sms sayang dari sang pacar? Allah SWT memberikan kesehatan, umur, rejeki, nikmat melihat, nikmat mendengar dan nikmat lainnya yang tidak terhitung, sebagai wujud sayangnya yang nyata! Apa semua itu tidak cukup untuk membuat kita bersemangat?

2. Hampir sama dengan nomor satu. Kalau pengen pinter ya belajar bukan pacaran, mending pacaran sama buku, internet, atau belajar bersama dengan temen yang pinter juga. Kenapa harus dengan pacaran?

3. Mengetahui tipe pasangan. Well, Islam mengajarkan lewat pihak ketiga, kayak “mata-mata” gitu lah, yang deket dengan orang yang kita sukai jadi, dia memberi informasi pada kita tentang orang yang kita sukai. Namun, pihak ketiga itu harus amanah donk

4. Teman curhat, temen jalan temen buat have fun.
Apa guna kita punya teman banyak, apa guna kita punya sahabat, kalau yang diajak curhat, jalan-jalan dan bersenang-senang adalah pacar? Biasanya, seseorang yang memiliki sahabat yang berstatus pacaran, agak “tidak dianggap.” Dia hanya membutuhkan kita saat ia ada masalah dengan pacar. Kalau sudah baikan, kita ditinggal. Wow.

Jadi, apa pacaran benar-benar memberi manfaat?

Dalam ekonomi, kita akan mendengar istilah Biaya Oportunitas. Yaitu nilai yang dikorbankan karena kita telah memilih pilihan yang lain. Coba kita terapkan pada kasus pacaran. Misal, waktu yang kita gunakan untuk pacaran seharusnya bisa kita gunakan untuk hal-hal yang jauuuuh lebih bermanfaat. Mungkin anda menghabiskan waktu 1 jam untuk pacaran. Padahal, 1 jam itu bisa kita gunakan untuk membaca buku, menulis cerpen atau puisi, untuk membantu pekerjaan orang tua di rumah, membuat kerangka penelitian untuk mendapat beasiswa, untuk mengaji, untuk belajar tahsin dan masih banyak hal yang bermanfaat lainnya. Bayangkan, 1 jam itu bisa anda gunakan untuk menghapal al-qur’an kira-kira 5 ayat.

Bandingkan kalau setiap hari, anda menghabiskan waktu satu jam untuk pacaran dengan setiap hari anda menghabiskan 1 jam untuk menghapal al-qur’an, mana yang lebih besar manfaatnya?

Mari kita sama-sama belajar prioritas dan melakukan apa yang Allah dan Rosul-Nya perintahkan dahulu. Allah menyuruh kita shalat, puasa, dakwah, zakat, haji, apa kita sudah menjalankan semua itu? Kalau belum, kenapa kita melakukan hal yang tidak diperintahkan? Ada tuntunannya pun tidak.

Oiya, saya pernah mendengar bahwa pacaran itu maksiat dan zina. Karena zina itu tidak hanya identik dengan hubungan seks, tapi ada juga zina mata (lietin sang pacar dari ujung rambut sampai ujung kaki, padahal bukan muhrim), zina pikiran (punya pikiran macem2 sama sang pacar), zina tangan (pegangan tangan dan pegangan yg lain, padahal belum jadi muhrim), zina mulut (merayu, nge-gombal, dll )

So, sebenarnya, “pacaran” itu boleh kok, tapi setelah menikah dengan sah. Sudah halal. Hohoho. Saya tidak akan membahas soal nikah karena saya belum cukup umur dan pengetahuan :D

Masa muda sia-sia jika hanya dihabiskan untuk pacaran
Mending buat ngaji, baca buku atau hafalan Al-Qur’an 
Yakinlah, jodoh kita sudah tertulis di lembar takdir Tuhan
Ia akan datang pada waktu dan cara yang indah, kawan..
Tinggal kita bersabar dan berikhtiar
Namun, pacaran bukan ikhtiar yang baik dan benar

Yuuk, kita benahi diri kita masing-masing,
Mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal-hal kecil dan mulai dari...
SEKARANG!!!

tetap proritaskan cinta kita..
cinta terbesar yang kita punya hanyalah untuk Allah SWT dan RosulNya :)

Tulisan di atas hanya sebatas teks argumentasi,
Sekedar goresan opini
Yang kebetulan melintas di pikiran dan dalam hati
Maaf jika ada yang tidak menyukai
Tapi ini negara demokrasi
Tak ada larangan berpendapat dan menulis semua ini :D
Salam damai ^_^V


kunjungi juga http://tausyah.wordpress.com/2011/01/15/ajaran-islam-hanya-menghalalkan-pernikahan-dan-mengharamkan-berpacaran/


4 comments:

Hamba Allah said...

pacaran di haramkan... bagaumana dengan musik? anda suka musik???

Rizky Oktaviani said...

suka

Anonymous said...

Ganti aja kata "pacaran" dengan yg lain. Di palembang namanya "cewekan" jd nggak pacaran hehehe. Pake istilah arab aja kl gitu wkwkwkw. Terkadang persoalan fiqih itu terlalu disederhanakan dgn mengacu pd istilah bukan esensi. jdnya suka gagap saat membahas fenomena sosial masyarakat modern (pasca-modern sebenarnya).

Rizky Oktaviani said...

aaaaaaa.....
MAS ALVEIIIINNNNNNNNNNNN !!!!!!

kepo banget sih !!!!!

Post a Comment

Pages