image

An Evolution Makes A Passion


What’s your passion?

It’s a common question right now, when we’re at the age of “ looking for a job” or “create a job.”

Because, sometimes we find a quote at motivation books, articles, TV programs, even radio shows about this one:
“ suit your passion “

So, when we look for a job, we need to choose a job which is suitable with our own passion.
Sounds comfortable, yeah, because we can work happily. Even if there’s a pressure, we still keep cool cause we love what we do.

But what if, you can find your passion after we do nothing but uninteresting, even we finally find it unawares. I did. And it happen everytime when I almost give up, or feel desperate with my life. 3 things, for examples, the hateful things before, but now these become my passions.
1.     1.   Writing
I didn’t like writing. Write something formal, rigid, with  perfect grammar, and boring such as opinions, essay, report analysis, and soon. Even when I was at the high school, I hate wrote practicum’s analysis although I was one of Sains’ class students. For me, writing whatever like those really isn't interesting at all. I prefer read novels than newspapers. Prefer watch movies than news.
 But I’d like to make poetries and short stories. Because both of them need full imaginations and we can create something unusual on it. I do love fiction. Harry Potter? Trio Detective? Sherlock Holmes? Others fiction genre are my favorites either.

A Little Story at Gombong




Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu diberikan waktu oleh Alloh untuk menikmati perjalanan ke luar jogja lagi (yeaaaay ^^). Kali ini, tujuan ku adalah Benteng Van Der Wijck di Gombong, tepatnya di Kebumen, Jawa Tengah. Sebenernya, aku enggan ikut, karena aku disuruh menggantikan Ibuku menjadi wali murid my lil’ bro Faris dalam acara piknik keluarga Ibnu Abbas Se-DIY kayaknya. Ibu bekerja menjadi guru dimana Faris bersekolah. So, Ibu jadi panitia. Sedangkan Bapak tidak dapat menemani karena Hari Ahad adalah Hari Bermasyarakat bagi beliau (maklum PNS). Adikku yang satunya masih betah di asrama. Intinya, Cuma aku yang tersisa.
Berangkat dari rumah pukul setengah 6, kumpul di Ibnu Abbas Beluran. Ananging, semruput-mruputnya kami datang, bis-bis datang pukul 7 lebih. Oke, fine. Btw, total bis ada 64. Kami menjajah Kebumen. 
Lautan manusia, memenuhi jalan sepanjang Dusun Beluran (menunggu kedatangan bis)


Selama perjalanan aku dapet kenalan bernama Mbak Isti yang kebetulan adalah kakaknya temennya Ibuku (ribet yes). Mbak Isti ikut piknik dengan anaknya. Aku kira adiknya, karena beliau serasa masih berumur 25 tahunan, gayanya trendy layaknya anak muda ( celana dan jaket jeans) tapi anaknya udah berumur 9 tahun -__-“ #iri. Sedangkan aku, selama perjalanan dipanggil dengan “Bu”. Semua terjadi gegara Ibu menyuruhku memakai gamis&sneakers ala emak-emak mau ke resepsi, di kala aku sudah siap dengan mengenakan kaos lengan panjang, rok, dan sandal gunung Rey-ku tersayang. Image geografiku pun lenyap.
Sepanjang perjalanan di bus, nggak usah diceritakan ya, kerjaanku cuma satu, tidur.
Finally, kami sampai di lokasi. Di luar benteng alias sebelum menuju pintu masuk benteng, terdapat beberapa kamar-kamar hotel di sebelah kiri, ruang-ruang rapat di kanan jalan, auditorium, kantin, mushola, wahana boom-boom car, toilet, dan waterpark.  
Adek  paling kecil Si Pemilik Ketetapan Hati yang Cerdas ( Azmi Al-Farisi )


Prilta, Faris, Me

Berikut adalah beberapa spot rekreasi yang aku kunjungi :

Apa guna kau kuliah di Geografi, Kik ?!


Lagi-lagi sempet macet nge-blog
maaf para fansku.. 
tapi aku masih aktif nulis kok,
iya, skripsi, makasih, sssst -_-

well, bentar lagi aku lulus ( doakan Agustus dah wisuda ya :3 )
kadang merenung, selama ini aku belajar geografi, tapi masih sedikit ilmu yang aku bagikan

aku cuma bisa mengupayakan di mana pun berada, selalu mengamalkan ilmu-ilmu yang aku dapet, minimal dengan nggak buang sampah sembarangan

Kemaren Alhamdulillah kesampaian juga ngadain kajian tentang Mitigasi Bencana buat anak-anak SMA, plus kaitan Mitigasi Bencana dengan Al-Qur’an ( In Syaa Alloh di postingan selanjutnya ).

Kadang pas ngisi mentoring dan kumpul bareng temen-temen pelajar, atau saat ngobrol dengan temen-temen non geografi,  aku selipkan beberapa ilmu geografi, kayak terjadinya hujan dan bumi ini yang ternyata udah ada di Al-Qur’an jauuuuuh sebelum peneliti mengetahuinya.

Ah… tapi, masih belum cukup

Dan masih ada yang mengganjal

selama ini aku hidup di lingkungan geografi, tapi aku merasakan kebutaan.

Iya, buta

Kami tau proses pembentukan gunung, terjadinya tsunami, bagaimana matahari bisa bersinar, bagaimana semesta alam ini bisa tercipta, bahkan geographer bisa “meramalkan” kejadian di “masa depan” dan mengetahui apa saja yang terjadi di masa lalu dengan ciri-ciri di alam,  tapi kadang kami buta

Di Depan Pintu Panti

Setiap hari ini, ya, hari ini aku hanya bisa menyembunyikan luka
Tetap ku berlari melawan dunia
Dengan topeng tawa yang melindungiku dari belas kasih manusia
Aku tak ingin dikasihani !

Setiap tanggal ini, tanggal saat anak-anak Adam nusantara mengucapkan mantra cinta
Kepada sosok yang merawat mereka
Memperjuangkan apapun demi kehidupan mereka, bahkan nyawa

Tapi kenapa,
Kenapa sosok itu tak ada di jalan panjang ku
Tak ada senyumnya di setiap hela nafasku
Ia mungkin pernah kulihat, di masa lalu
Namun, memoriku terkubur dalam, lenyap seperti bayangnya

Haruskah aku mengucapkan “Selamat Hari Ibu” padamu?
Padamu yang telah meninggalkan ku di depan pintu panti?
Padamu yang bahkan aku tak tahu seperti apa parasmu

Meski begitu, andai kau tahu Bu…
Doaku mengalir tulus untukmu
Meski dunia ini membuatku keras dan membatu
Kau tetap kunanti seperti dahulu, di depan pintu panti
Kembalilah Bu
Aku tak akan marah padamu, aku hanya ingin memelukmu
Merasakan hal yang sama seperti mereka
Kutunggu di sini Bu, di depan pintu panti

( DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI IBU, 22 DESEMBER )


dimuat di : http://mjeducation.co/di-depan-pintu-panti/

SAJAK INFANTERI






dimuat di http://mjeducation.co/sajak-infanteri/


Bergerilya ku di ujung pagi hingga senja menghampiri
Semak belukar hingga duri setia menemani, hampir di setiap sudut terpencil ini
Ku tinggalkan kedua anakku di tanah rantau
Ku biarkan mereka tumbuh dalam balutan kasih sayang istriku seorang
Bahkan si bungsu belum sempat menatap wajahku
Pilu..

Duhai, betapa rindu ini menggelora
Hanya bisa reda saat kutatap selembar foto usang keluarga
Sukmaku menjerit ingin pulang
Ingin segera bertemu dan bersua

Kalau bukan karena tanah ini, tak akan ku songsong senjata
Kalau bukan sebab Ilahi yang menjadi penopang diri, aku sudah lari
Namun, merah putih sudah terpancang teguh di hati

Menikmati Suasana Etnik Suku Osing di Banyuwangi


          


          Indonesia memiliki ribuan suku dan budaya dengan keunikan masing-masing. Termasuk Suku Osing yang berada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Hampir sebagian dari Kabupaten Banyuwangi dihuni oleh Suku Osing. Salah satu kawasan yang dijadikan Desa Wisata Adat Osing berada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.
           Tidak banyak yang mengetahui bahwa Suku Osing merupakan salah satu kelompok masyarakat yang berasal dari Bali. Mereka mengungsi ke Pulau Jawa karena peristiwa runtuhnya masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Oleh sebab itu, mereka memiliki bahasa khas yang sangat berbeda dari Bahasa Jawa. Sampai saat ini, bahasa tersebut digunakan oleh seluruh penduduk Suku Osing. Bahkan, sebagian besar penduduk asli tidak memahami bahasa lain selain bahasa mereka sendiri termasuk Bahasa Indonesia.
           Di Desa Kemiren, budaya Suku Osing sangat terjaga. Kesenian, adat istiadat masyarakat, dan bahasa benar-benar dijunjung tinggi oleh penduduk setempat. Salah satu kesenian khas Suku Osing adalah Tari Gandrung. Gandrung berarti cinta atau menyenangi. Tari ini dulunya merupakan tarian perjuangan yang bertujuan untuk mengelabuhi penjajah agar terlena dan memberikan kesempatan pada masyarakat untuk menyerang mereka. Kesenian ini hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu, seperti upacara kemerdekaan, penyambutan tamu, pernikahan, dan khitanan. Jika Anda mengunjungi Desa Kemiren, Anda akan disuguhi tarian tersebut lengkap dengan musik pengiring yang unik. Tari Gandrung memiliki beberapa tahapan yaitu Jejer Gandrung untuk penyambutan yang berlangsung sekitar 15 menit dan Tari Pacu Gandrung (berlangsung fleksibel). Tari Gandrung ditarikan minimal oleh 4 orang penari, bisa laki-laki maupun perempuan. Biasanya, para tamu akan diajak menari jika terkena lemparan selendang penari Gandrung.
Tari Gandrung saat penyambutan tamu


Bagi yang Bergelar " Pahlawan Tanpa Tanda Jasa"



Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Salah satu pengajar Indonesia Mengajar yang mengabdi di pelosok pulau


Entah kenapa lagu Oemar Bakri punya Om Iwan Fals ini semi lucu-ironis. Musiknya yang ala-ala musik koboy, terdengar ceria memang, tapi isi lagunya bikin miris. Makna lagu ini sebenarnya sangat dalam. Lebih dari sekedar mendesripsikan kondisi pendidikan dan keadaan guru yang kekurangan.

Mungkin, seperti itulah gambaran sosok guru, terutama di Indonesia. Being a teacher is easy, but not to be a good one. Mau jadi guru? Gampang. Jadi tentor privat, buka bimbel, adakan pelatihan keterampilan, atau jadi guru ngaji alias guru TPA. Tapi, bisakah kita jadi guru yang baik? Meski sebenarnya tak ada definisi jelas mengenai menjadi guru yang baik. Walaupun, jika kita kuliah di kependidikan atau belajar ilmu kependidikan ada 4 kompetensi guru( pedagogic, individu, sosial, dan profesional). Apabila keempat kompetensi dapat dicapai seorang guru, besar kemungkinan guru tersebut termasuk guru yang baik.

Sebingkai Memori di Pulau Seribu Pura




Aku ingat betul saat itu, seusai acara EEK alias Eksplorasi Ekologi di Batan, Ipung menelponku dengan nada terburu-buru. Seolah jika aku tak segera menghampirinya, ia akan kehilangan seluruh jati dirinya (emang punya ya? :p ). Kutinggalkan beberapa teman sesama panitia di HMPG. Akupun setengah berlari menuju ruang dosen, tepatnya di lantai 3 Gedung Dekanat. Lelah setelah EEK dan menaiki puluhan anak tangga pun kalah dengan rasa penasaranku. Ono opo iki?

Tiba di Ruang Dosen, tak lupa ku ucap salam ( biar nggak diomelin Bu Par ). Ku lihat Ipung dan Weni sedang berdiskusi serius bersama Bu Nurul. Ternyata, kami lolos sebagai finalis di Lomba Karya Tulis Geografi yang diadakan oleh IMAHAGI. Event grand final pun diadakan di Pulau Bali, tepatnya di Undiksha. Aku masih tak percaya dengan kabar itu. Bagaimana bisa, kami, tiga bocah kemarin sore alias semester awal, bisa lolos ke tingkat Nasional? bagaimana bisa, karya dadakan dan karya pertama yang kami buat bisa mengalahkan beberapa mahasiswa dari UI, UNY, UGM, dan universitas-universitas ternama lainnya?


Allah memang Maha Mendengar doa hambaNya : )

Namun, ada hal yang lebih urgen untuk dipikirkan. Kami harus ke Bali esok hari itu juga. Padahal waktu itu sudah menunjukkan sekitar pukul 2 siang. Alhasil, kami segera menyusun proposal pengajuan dana. Pukul 3 sore, kami nekat menyerahkan proposal itu ke bagian keuangan. Padahal, sudah hampir tutup jam kerja. Alhamdulillah, berkat Bapak kami tercinta, Pak Suhadi Purwantara yang saat itu masih menjabat wakil dekan, segala urusan dana dipermudah.  Masya Allah... dan itu adalah kali terakhir, dimana mahasiswa dimudahkan dalam hal pengajuan dana untuk membawa nama baik Universitas. Kini, birokrasi fakultas terasa sangat.... hmm how could I say 😅

Pages

 

Lorem ipsum

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Donec libero. Suspendisse bibendum. Cras id urna. Morbi tincidunt, orci ac convallis aliquam, lectus turpis varius lorem, eu posuere nunc justo tempus leo. Donec mattis, purus nec placerat bibendum, dui pede condimentum odio, ac blandit ante orci ut diam.