image

Menulis Itu Kayak Ngupil


" Sering ngupil? Nikmat bukan? seperti itulah nikmatnya menulis"



Resiko mahasiswa akhir yang masih belum terlalu fokus ama skripsi. Salah satunya adalah nggak update blog. [apa hubungannyaaaah???] eh, tapi ciyus deh. Resya, Wimbi, Muji, Nurul, Thomas, Kikik, Rizkek, Mas Wawun, Eno, Pak Taka, update blog juga dong :D lagi pada asik dengan dunia lain yee, lagi sibuk bisnis yeee, atau dapet proyek dari dosen yeee *Ups

sama sih.


Karena asik dengan dunia lain yang sama-sama menulis. Tapi agak serius. Kadang bikin resah buat nyari ide, sampai-sampai harus bertapa sambil pup. Nulis tanpa sisi humoris bener-bener menguras pikiran. Apalagi kalo ditagih 2 artikel dalam waktu sehari. Terus revisi-revisi. Ya Rabb, I love this :D 

Tudei, aku mau cerita dikit tentang blogging ama nulis. Santai aja bacanya, tapi jangan sambil ngupil. Eh, nggak apa-apa deh sambil ngupil, kan judulnya ada kata-kata ngupil. Berapa banyak upilmu? Ratusaaaan *sumpah jijik banget paragraf ini untuk dibaca* 

Berdasarkan penelitian, blogging merupakan salah satu aktivitas penghilang stress, awet muda, bahkan bisa bikin kaya. Penelitiannya siapa? lupa. Yang jelas, dulu pas pertama baca hasil penelitian itu bikin aku ngangguk-ngangguk. Apalagi kalo aku langsung ambil cermin. Bener juga ya. Bikin tambah imut *apasih
Tapi, inti sebenernya bukanlah blogging. Menulis. Blogging hanyalah satu dari sekian fasilitas menulis. Kalo kita jalan-jalan sebentar ke masa pra sejarah, manusia mulai menuliskan sesuatu di kulit binatang, dinding gua, atau batu yang kerap disebut prasasti. Waaaah, coba dulu ada blog ya, kita bisa ngepo-in Gajah Mada suka ngapain aja, dia pasti bikin website pribadi, trus pasti dia bakal cerita inspirasi Sumpah Palapa darimana, trus curhat tentang Kerajaan Majapahit.. “di kerajaan inih akoooh jadiiih panglima peraang, kerend beutz khan?”

*ditoyor pake meriam

meski demikian, aku pribadi masih belum bisa menerima kenyataan bahwa jika menulis status alay di facebook bisa bikin tambah imut atau meredakan stress. Meski itu juga aktivitas menulis. Bikin orang eneg iye. Sebab, kadang kita eh kita [?] bikin status marah-marah nggak jelas ke siapa ( coba kalo pas marah ama seseorang trus orang itu di tag kan jelas ya ) mending kalo lagi punya masalah atau mau marah-marah ditahan, terus berdoa biar dikasih jodoh #eh.

Bagi yang Bergelar " Pahlawan Tanpa Tanda Jasa"



Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Salah satu pengajar Indonesia Mengajar yang mengabdi di pelosok pulau


Entah kenapa lagu Oemar Bakri punya Om Iwan Fals ini semi lucu-ironis. Musiknya yang ala-ala musik koboy, terdengar ceria memang, tapi isi lagunya bikin miris. Makna lagu ini sebenarnya sangat dalam. Lebih dari sekedar mendesripsikan kondisi pendidikan dan keadaan guru yang kekurangan.

Mungkin, seperti itulah gambaran sosok guru, terutama di Indonesia. Being a teacher is easy, but not to be a good one. Mau jadi guru? Gampang. Jadi tentor privat, buka bimbel, adakan pelatihan keterampilan, atau jadi guru ngaji alias guru TPA. Tapi, bisakah kita jadi guru yang baik? Meski sebenarnya tak ada definisi jelas mengenai menjadi guru yang baik. Walaupun, jika kita kuliah di kependidikan atau belajar ilmu kependidikan ada 4 kompetensi guru( pedagogic, individu, sosial, dan profesional). Apabila keempat kompetensi dapat dicapai seorang guru, besar kemungkinan guru tersebut termasuk guru yang baik.

Sebingkai Memori di Pulau Seribu Pura




Aku ingat betul saat itu, seusai acara EEK alias Eksplorasi Ekologi di Batan, Ipung menelponku dengan nada terburu-buru. Seolah jika aku tak segera menghampirinya, ia akan kehilangan seluruh jati dirinya (emang e nduwe? :p ). Kutinggalkan beberapa teman sesama panitia di HMPG. Akupun setengah berlari menuju ruang dosen, tepatnya di lantai 3 Gedung Dekanat. Lelah setelah EEK dan menaiki puluhan anak tangga pun kalah dengan rasa penasaranku. Ono opo iki?

Tiba di Ruang Dosen, tak lupa ku ucap salam ( biar nggak diomelin Bu Par ). Ku lihat Ipung dan Weni sedang berdiskusi serius bersama Bu Nurul. Ternyata, kami lolos sebagai finalis di Lomba Karya Tulis Geografi yang diadakan oleh IMAHAGI. Event grand final pun diadakan di Pulau Bali, tepatnya di Undiksha. Aku masih tak percaya dengan kabar itu. Bagaimana bisa, kami, tiga bocah ingusan semester awal, bisa lolos ke tingkat Nasional? bagaimana bisa, karya dadakan dan karya pertama yang kami buat bisa mengalahkan beberapa mahasiswa dari UI, UNY, UGM, dan universitas-universitas ternama lainnya?


Alloh memang Maha Mendengar doa hambaNya : )

Namun, ada hal yang lebih urgen untuk dipikirkan. Kami harus ke Bali esok hari itu juga. Padahal waktu itu sudah menunjukkan sekitar pukul 2 siang. Alhasil, kami segera menyusun proposal pengajuan dana. Pukul 3 sore, kami nekat menyerahkan proposal itu ke bagian keuangan. Padahal, sudah hampir tutup jam kerja. Alhamdulillah, berkat Bapak kami tercinta, Pak Suhadi Purwantara yang saat itu masih menjabat wakil dekan, segala urusan dana dipermudah. Love you so much Pak..  dan itu adalah kali terakhir, dimana mahasiswa dimudahkan dalam hal pengajuan dana untuk membawa nama baik Universitas. Kini, birokrasi fakultas terasa sangat busuk.

Pages

 

Lorem ipsum

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Donec libero. Suspendisse bibendum. Cras id urna. Morbi tincidunt, orci ac convallis aliquam, lectus turpis varius lorem, eu posuere nunc justo tempus leo. Donec mattis, purus nec placerat bibendum, dui pede condimentum odio, ac blandit ante orci ut diam.