image

Bila Rasaku Ini Rasamu…





Jika aku bahagia, ingin kubagi bahagiaku denganmu agar kau pun bahagia
Tapi jika aku sedih, aku tak ingin kau ikut larut dalam duka
Cukuplah kau tau dan beriku sebait doa pelipur lara..




puisi di atas buat kamu deh..

Bila rasaku ini rasamu, maksudnya apa coba?

Well, beberapa hari yang lalu, ada kehebohan di socmed. Bukan soal bawang sih. Tapi, tentang seseorang yang “curhat” berlebihan di facebook. Apalagi status curhatan yang dibuat, melibatkan beberapa orang yang di-tag oleh orang tersebut. “Kebetulan” saat itu aku lagi OL dan menyaksikan juga. Dan “kebetulan” lagi aku salah satu temen orang tersebut meski nggak begitu deket. Walhasil, banyak orang yang menanyakan ke aku kenapa seseorang itu membuat status demikian. Nah loh, aku kan jadi kepo. Aku buka time linenya dan menemukan status-status berlebihan lainnya. Berhubung gaya bahasa, penempatan tanda baca, dan  isi dari status itu mirip dengan style orang itu, maka kesimpulanku, memang ia sengaja membuat status tersebut. Aku juga udah konfirmasi ke orang itu secara langsung dan emang bener dia yang bikin -__-“


Aku mendadak illfeel..
Ternyata kalo kita baca status orang lain yang lebay, nggak enak banget. Aku coba memutar posisi, jika aku yang memposting status lebay, maka perasaan orang-orang yang membaca pasti iyuuuuh banget.

-___-“ Astaghfirulloh..  being crazy in socmed is too creepy, somehow.

Curhat itu boleh-boleh aja, toh kebanyakan postingan di blog ku juga curhat. Tapi, usahakan curhat yang manfaat. Yang bisa memberi “pelajaran” buat yang baca. Dan dengan tata bahasa yang baik, I mean, nggak terlalu lebay.

Kadang, kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain, contohnya ya itu tadi. Jangan lebay di socmed. Meski kadang aku mikir, kalo di twitter aku sering heboh juga. Meski nggak separah kasus tadi. Harus kontrol diri nih.

Mungkin, terlalu banyak curhat di socmed itu pertanda : 
  1.      Belum puas curhat ke Alloh. Biasanya, kalo punya masalah trus curhat ke Alloh setelah sholat, ampe nangis-nangis, hati jadi lega. Karena PERCAYA akan ada solusi dari-Nya. Nah, kalo belum puas, belum sepenuhnya percaya Alloh akan beri kemudahan, curhatlah ke facebook. Masalahnya, di facebook itu banyak “silent reader” kayak aku (duh, ketauan deh). Orang yang baca dan tau status-status orang tapi “pelit” jempol apalagi komentar. Jadi, meskipun nggak kasih respon, mereka tau.. terus kenapa? Kan jadi banyak yang tau masalah kita, kehebohan kita, apalagi silent reader yang bisa “baca” dalam artian memahami makna gaya tulisan seseorang. Bahaya ! kelemahan kita bisa terdeteksi. Ya kalo silent reader itu orang baik, bisa kasih kita masukan. Kalo bukan? Bisa dipengaruhi macem-macem…
  2.  Kurang perhatian dari orang terdekat. Bisa jadi, terlalu sering curhat di socmed itu karena orang-orang terdekat seperti keluarga ( ayah dan ibu terutama ) atau temen deket tidak begitu perhatian dengannya. Aku nggak bisa bayangin, gimana rasanya nggak diperhatiin ama ortu dan temen deket terutama kalo lagi punya masalah. Biasanya kalo anak cewek curhat ke ibunya dan temen deketnya. Cowok nggak tau curhat ke siapa, hehehe. So, jangan-jangan selama ini kita kurang perhatian atau kita yang kurang memberi perhatian ke temen kita. Introspeksi..
  3. Kalo kurang perhatian, berarti dia pengen diperhatikan. istilahnya CAPER. Cari perhatian. Bisa jadi, lewat status-status itu ia ingin mendapat “pengakuan”. Misal bikin status  “bersih-bersih rumah ah, terus masak, terus nyuci”. Kalo orang yang baca punya pikiran positif kayak aku ( eh) status itu ya sebatas status aktivitas orang tersebut. tapi, bagi orang lain bisa jadi “ alah, gaya banget, Cuma gitu doang dijadiin status” atau “pasti jarang bersih2 ya ampe dibikin status segala”. Bisa jadi sih, si pembuat status ingin mendapat “pengakuan” bahwa ia rajin, ia bisa masak, dsb.. negative tuh.
  4. Entah pertanda apa namanya, jika di twitter sering banget ada tweet dengan hashtag #nomention. Biasanya tweetnya berisi sindiran, atau ungkapan-ungkapan yang ditujukan kepada seseorang, tapi nggak berani mention orang yang bersangkutan. Contoh : “ semoga kamu sadar bahwa aku selalu berdoa buat kamu #nomention “
intinya apa ya? Biasanya tweet-tweet orang-orang galau pake #nomention. Mungkin nggak berani atau malu kalo tweet itu ketauan ditujukan untuk orang yang bersangkutan. Hem.. semacam secret admirer atau cinta bertepuk sebelah driji? #oposih. 

Solusi biar nggak kebanyakan curhat di facebook??
  1. Curhat dulu ke Alloh, tanamkan sugesti positif Alloh pasti kasih solusi atas semuaaa masalah kita sebanyak dan serumit apapun itu. Alloh gitu lho. Yang Bikin alam semesta ini siapa? Masa’ kita curhat duluan ke facebook -__-“
  2. Be a good listener. Jangan egois saat berbicara. Mungkin orang yang kita ajak bicara juga ingin bicara, tapi kita tak memberi kesempatan. Kita tetap aja ngoceh. Atau kita yang ada di posisi tak diberi kesempatan bicara? #ups . Jadilah pendengar yang baik, usaha dulu deh, baik tidak sih relative. Hohoho. Diskusi. Cari teman sebanyak mungkin. Diskusi dengan mereka tentang berbagai masalah yang ditemui. Kita akan dapat masukan dari situ.
  3. Baca buku. Coba deh, tutup laptop/ komputer, umpetin modem, lempar ke atas genteng (lebay), menjauh, ambil buku, bisa sambil ngopi atau ngemil. Rileks kan pikiran dengan membaca. Akan sangat lebih bermanfaat daripada curhat berlebihan di socmed.
  4. Olah raga. Mulai dari jogging santai, atau yang ikut bela diri, kesempatan emas menyalurkan emosi dengan cara yang menyehatkan. Atau suka nge-band? Cobalah maen drum, tapi jangan ngawur mukulnya, hehehe.
  5. Salurkan emosi jadi sebuah karya.  Bisa jadi puisi, cerpen, artikel, lagu, dan banyak hal lainnya. Ingatlah, tulisan kita sedikit banyak mempengaruhi alam bawah sadar pembaca. Kalo yang kita tulis baik, Insya Alloh jadi amal jariyah kebaikan. sebaliknya, kalo tulisan kita mengandung keburukan, keburukan itu mengalir.. na’udzubillah..

Hati-hati kalau curhat.. ada kutipan dari Bang Tere Liye yang #makjleb

*Rahasia kecil

 Kalau kita ingin tahu bersih tidaknya sebuah gedung, lihatlah toiletnya
 Kalau kita ingin tahu sehat tidak sebuah kamar, lihatlah seprai ranjangnya
 Kalau kita ingin tahu warung makan lezat, lihatlah pengunjungnya

 Kalau kita mau tahu rahasia satu komplek perumahan, tanyakanlah ke mamang sayur.
 Kalau kita mau tahu lantai-lantai gedung, tanyakanlah ke kurir surat
 Kalau kita mau tahu jalan2 pintas, tanyakanlah ke sopir taksi

 Dan terakhir, tentu saja, kalau kita mau tahu rahasia orang2 yg sedang jatuh cinta, kelakuan ajaibnya, semua galaunya, maka tanyakanlah ke teman dekatnya; kesanalah semua rahasianya tumpah. Sadar atau tidak sadar.

 Ssttt, tapi ini rahasia kecil.
 Jangan bilang-bilang.

Kalo temen deket kita facebook.. watch out !

kita bisa mengenali sifat dan karakter seseorang hanya dari status yang ia buat : ) be careful, dude..


3 comments:

Anonymous said...

Hukuman terberat itu adalh diabaikan. banyak yg kuat bila dihina, banyak yg tangguh bila dibenci tp pengabaian merupakan hukuman yg melukai. Tdk setiap individu tangguh dlm menghadapinya. Penting utk belajar menguatkan diri. Proses pertumbuhan personal agar memiliki self confidence, self esteem lalu memiliki self respect. Sehingga saat menghadapi konflik memiliki kemampuan dlm menghadapinya. memiliki panduan kemana dan kepada siapa saat mncari solusi.

Rizky Oktaviani said...

hem.. bukan diabaikan mas, duh, kalo belum ngadepin sendiri, susah ngejelasinnya. kadang saat kita memberikan perhatian, dukungan, atau simpati, terus kadang orang itu meminta "lebih' tanpa memperdulikan aktivitas kita, cenderung 'memaksa' dalam meminta pertolongan. kan bikin orang lain illfeel mas -_-"
gimana caranya biar bisa mengendalikan org yg terlalu heboh dan berlebihan?

Anonymous said...

Bukan gitu. Maksud Gw, penyebab seseorang lebay dlm memintaperhaian krn dia diabaikan dr orang2 penting dlm hidupnya. Diabaikan itu sebab, bukan akibat. Oleh krn kurang perhatian, eksistensinya tak penuh. Maka muncul perilaku lebay itu td. Untuk menghindari munculnya perilaku seperti itu maka dibutuhkan proses healing yg memberdayakan kekuatan personalnya. Utk menghadapapi individu yg sedang dlm kondisi ini dibutuhkan mentoring yg memberdayakan. mengenalkan dirinya pd problem nyata dan memberikan solusi yg nyata jg. Kita bicara ttg ketakutan2 utama manusia di sini: ketakutan mencintai dan dicintai, ketakutan tak dikenal ato eksistensi, ketakutan tdk mampu hidup dan menghidupi. Ini 3 besar ketakutan utama (dr mayoritas manusia punya 7 ketakutan utama yg bersumber dr 7 penyakit hati. tanpa kesadaran ini, semua solusi hanya bersifat sementata dan menimbulkan kecanduan energi. makanya usaha yg dilakukannya utk mendapatkan perhatian overact bahkan bs jatuh pd kecanduan energi dr mentornya. Dia akan kuat bila ada dan lemah bila tdk mendapatkan perhatian (baca: energi) yg diinginkan. Pd individu tertentu, usaha utk mendapatkan energi ini dilakukan dengan jalan intimidasi. teror. Dementor. DIbutuhkan pendekatan holistik (menyeluruh) utk menghadapi individu2 yg terjebak pd kondisi ini.

Post a Comment

Pages