image

Welcome to you at 5th semester :O



Welcome to you … 5th semester !!! be good to me, oke?

Whoa, I can feel the different air, right now. hope it’s a good signal.

Semester 5 artinya udah nambah tua, punya adek angkatan dua, sering pulang jam lima, jadwal kuliah hampir geje semua, tugas-tugas berlipat ganda, kerja part time harus diubah jamnya, pokoknya bikin aaaaaaaa banget .

Tapi, aku bener-bener pengen berubah dan pengen membuktikan bahwa aku bisa lebih baik dari semester2 sebelumnya. Terutama semester 4. Dimana titik kulminasi kejenuhan perkuliahan mendera raga dan jiwaku (ciyeeeh). tugas-tugas kececer, gak ikut UTS satu kali, sering nggak masuk kuliah, migren sering kambuh, tidur pas kuliah, nggak punya “passion” buat kuliah, eneg sama semua organisasi apapun itu, sering kayak orang gila yang nangis sendiri tanpa sebab yang jelas (jangan-jangan..), pokoknya aku ngerasa bosen banget kuliah.


Ditambah sistem pembelajaran dari dosen yang monoton. Kalo textbook ya textbook terus. Sampe2 UAS pun kalo jawabannya beda sama di diktat ya nilainya kurang. Padahal intinya sama, meski kalimatnya beda. Aaakh ! kemampuan mahasiswa kan harusnya aplikatif, bukan kemampuan menghapal isi diktat sampe persis kalimat-kalimatnya. #Pffff. Noh, yang bawa contekan dijamin nilainya bagus. Cz sama persis dg yang di diktat. (close enough)

Ada juga diskusi ya diskusi mulu. Mainstream banget tema diskusinya. Apalagi tentang kependudukan. Sampe2 kalo liet iklan di tipi tentang KB yang ada si wisnu sama sama tuh ceweknya yang di cinta pitri itu, dan spesies sejenis bikin mrinding. Mrinding seolah-olah dihantui oleh hal-hal pragmatis semacam itu. Dan bla bla bla segala macam alasan melatarbelakangi betapa turunnya motivasi kuliah. Dan setelah survey, nggak Cuma aku ternyata. Hampir semua temen-temenku begitu. Meskipun IP malah pada naik (aneh).

Kalau bukan karena kuasa Alloh dan doa ortu serta orang2 yang sayang sama aku (emang ada? -_-), mungkin semester 4 kemarin nilaiku bakalan anjlok. Tapi yang terjadi Alhamdulillah sebaliknya. Mungkin karena memang sudah diniatkan kuliah untuk ibadah, ujian harus jujur, dan yakin bahwa pertolongan Alloh itu nyata dan ajaib jika kita pun “menolong” agamaNya, pokoknya aku merasa setiap kali UAS, nilai-nilai itu pertolongan Alloh semata, bukan karena aku.

Sebab, aku jarang belajar. Belajar itu dijamak H-1 sebelum UAS dan sesuai jadwal UAS. Jadi siswa yang maha justru malesnya juga semakin maha. Ajegileee..

Bukan mengumbar aib sih, hanya ingin mengkaji betapa kerennya Alloh padahal aku males. Apalagi kalo gak males yaa. WE LOVE YOU ALLOH :*

Well, ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku terkait sebuah status yang kini (masih) saya sandang. mahasiswa. Saat dapet nilai A, senengnya luar binasa. Tapi, apakah ilmu tersebut dapat kita manfaatkan? Atau hanya berhenti sampai UAS saja. Dan fakta berbicara bahwa kebanyakan pernyataan kedua yang terjadi. Misal nih, statistic dapet A. Coba, apakah sampai sekarang masih bisa ngitung yang rumit2 itu? Bisa kita kembangkan untuk ilmu lain? Kalau masih bisa, great! You’re really a good collegian.

Tapi, tidak semua dan sebagian besar mampu. Why? Karena otak kita sudah terlanjur dijejali dengan “A adalah nilai sempurna. Jadi berusalahalah dapet A, apapun caranya”. Bukan dengan “A adalah symbol bahwa kalian harus mampu mempertanggung jawabkan ilmu tersebut. jadi, jika kalian mendapat A, artinya kalian harus punya pemahaman dan pengembangan ilmu yang tinggi”. 
Terus kalo dapet A merasa pinter gitu kan?  Merasa lebih hebat gitu kan? Secara teori, mungkin ya. Bagaimana dengan aplikasinya? That’s the point.

“A” is the best mark, but the peoples who get it are not always the best either.maybe just luck, like me #Pfff

Yaksss, yang terjadi padaku justru adalah ketakutan yang semakin menghebat. Bisakah aku pertanggung jawabkan nilai-nilai kuliah itu? Sudahkah aku mampu meng-cover semua ilmu yang aku peroleh?
Aku masih merasa bodoh. Ini bukan pernyataan untuk sok-sokan rendah hati ya. Ini beneran menimpa pikiranku. Apalagi sebagai seorang geograf. Pemahaman tentang peta, GIS, physical, dan segala tetek bengek geografi pun aku masih dangkal ! seperti inikah mencari ilmu itu?

Dimanakah bisa kutemukan metode-metode penggalian dan pengembangan ilmu seperti yang dilakukan ibnu battutah? Ibnu Sina? Bahkan Buya Hamka dan Ahmad Dahlan? Hingga menjadikan mereka cerdas tak hanya dalam teori, tapi juga aplikasi?

Bagaimana? Dimana?

Aku belum menemukan tempat dimana dahaga yang aku rasakan setiap saat ini bisa terpuaskan dengan oase ilmu yang dahsyat. Apakah bukan di universitas ini? Apakah justru aku akan menemukannya bukan di lingkungan akademik? Justru di “unimagined island” kah?

Aku haus ilmu. Tapi, kemalasan dan sistem pembelajaran ini masih mengurungku di jeruji ilmu yang klise. Padahal aku yakin, di luar sana, aku bisa menemukan jawaban dan ilmu yang lebih banyak untuk bisa dimanfaatkan. Hijrah, insya Alloh..

Perbaiki diri sendiri dahulu, tentu saja. Namun, kalau tetap pasrah dengan kondisi pembelajaran sebagai mahasiswa seperti ini, rasanya terlalu apatis. Dua  “malaikat” penolongku yang masih mampu memuaskan dahaga ilmu ini hanyalah buku dan internet. Hehe.
Oke Kik, brace your self. 5th semester is coming.


2 comments:

Ninis said...

wah.. baru baca ki.. i love your way of writing.. :D
aku setuju banget... hm.. di lain waktu mungkin bisa kita bahas bareng ini.. :)
keep writing, dear..

Rizky Oktaviani said...

ehh, ada mbak ninis, waa malu >.<
sipp mbak, ayok lah kita diskusi bareng2 :)

Post a Comment

Pages