image

SEKOLAH ITU NGGAK PENTING [!] chapter #2


Nah, sedikit ulasan mengenai sebuah kelompok belajar tersebut bukan berarti bahwa sekolah itu tidak penting. Kelompok belajar itu juga sejatinya adalah sekolah, tempat untuk menuntut ilmu, mendapat bimbingan dan pengajaran. Sekolah kan tidak hanya formal saja. Pernah lihat pilem “Alangkah Lucunya Negri Ini” kan? Itu juga sekolah. Sekolah bagi para pencopet agar insyaf jadi pengasong :p

So, kelompok belajar di atas sebenarnya memberiku inspirasi. Bagaimana kalau di desaku didirikan sekolah semacam itu? Jeeng. Jeeengg…

Tapi tapi, di desaku kasusnya beda. Kalau di daerah Salatiga itu kan anak-anak banyak yang putus sekolah karena orang tuanya tidak mampu, tapi mereka masih memiliki semangat untuk sekolah. Kalau di desaku, anak-anak SENGAJA putus sekolah, ditambah dukungan orang tua agar mereka cari duit saja. Ya Rabb, cobaan macam apa ini?? -,-“

Nah, bingung nih. Sampai di sini saya bingung. Karena, jika toh tetap diadakan kelompok belajar, pasti mereka enggan. Sekalipun kelompok belajar itu GRATIS TIS. Sebab, mereka sudah nyaman dengan hidup mereka. Tidak perlu pusing-pusing belajar, cukup bekerja saja, dapet duit, bisa beli hape keren, bisa mejeng. Kalau sekolah kan harus belajar lagi. Sekolah itu susah. Ampun dah ! (itu pengakuan nyata dari dua orang anak di desa saya).

Aku bukan orang yang optimis, tapi realistis (mengutip kata-kata Tin Tin :3). Belum dicoba, tapi dengan kondisi seperti ini, sepertinya yang lebih urgen dilakukan adalah mengembalikan mindset masyarakat beserta anak cucu mereka bahwa sekolah itu penting ! (nah, kalo ngomongin mindset ini komplikatif !)  

Punya duit tapi bodho, ya sama aja. Apakah mereka para karyawan pabrik kulit lumpia akan selamanya bekerja seperti itu? Bagaimana jika suatu saat industri tersebut berhenti? Mereka pasti butuh pekerjaan lagi. Dan mencari pekerjaan tidak semudah mencari ikan di kali (oh, lebih susah ya -_-). So, MEREKA DAN KITA BUTUH PENDIDIKAN. Dan yang paling penting adalah :

SEKOLAH BUKAN UNTUK CARI DUIT !

Kalau kata Jessie J “it’s not about the money ! money ! money !

Jika semua orang memiliki konstruksi pemikiran bahwa sekolah untuk cari duit, tentu saja SDM Negara kita amat sangat di bawah standar. Dan memang kenyataannya masih seperti itu -_-“

 Jujur, aku sangat tertarik dengan kelompok belajar tersebut. Sebab, berdasarkan pengalaman sekolah selama bertahun-tahun, sekolah justru membatasi siswa-siswanya untuk mengembangkan minat bakat mereka. Contohnya di SMA ku duyu (mana eaaa? #alay). Akademik lebih diunggulkan daripada kerohanian, olah gara eh raga, MUSIK ! (damn, dulu pas aku sekolah nggak ada studionya), sastra, jurnalistik (meski ada buletin tapi ya Cuma gitu-gitu doang). Memang, tidak semua sekolah seperti itu. Jangan-jangan Cuma sekolahku ! :O

Aku memang bukan orang yang sudah bertindak besar, atau aktivis di desa, atau bermaksud sok-sokan mengurusi hal semacam ini (organisasi ku aja masih pada kacau, I know). Tapi, kalau aku bersikap apatis terus, kelak desaku jadi apa? Aku juga akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat mengenai masyarakat lho :3 dan aku sedang berusaha untuk memulai. It’s just the beginning (kata Linkin Park).

So, akhirmya kita sampailah pada saat yang berbahagia.. no no no, sampailah  kita pada kesimpulan. Kesimpulan berupa pertanyaan “BAGAIMANA SOLUSI DARI PERMASALAHAN TERSEBUT?”

Ceman-ceman, berhubung sedang musim PKM, mungkin punya ide yang menarik, sumonggo jadikan desa saya obyek ! hehe..

Cee yuu ceman-cemin, muach !

13 comments:

Anonymous said...

emang sekolah nggak penting. Yg penting itu proses belajar. Bedakan antara sekolah dengan pendidikan. Sekolah mrpkan salah satu cara mendapatkan akses kepada ilmu dan pengetahuan. manfaatkan bagi yg beruntung memiliki akses ke sekolah. Bagi yg memiliki jiwa "bajak laut", sekolah terlalu sempit bs jadi. Maka, proses belajarnya jg lebih unik dan meluas. Pola pikir era industri yg mengutamakan status sosial dan gelar akademis, nilai yg tinggi dan pekerjaan yg mapan udah lama ditinggalkan. Terutama era internet spt skrng. Pd akhirnya, dunia selalu berubah. Global Village makin transparan. Virus wirausaha jg makin mudah diakses oleh anak muda. Jd, bergeraklah dan kembangkan layarmu. Menjadi bajak laut! hew...hew...hew

(referensi: Secrets of Buccaneer-Scholar: How Self-Education and the Pursuit of Passion Can Lead to a Lifetime of Success by James Marcus Bach. Versi terjemahan MIZAN)

Rizky Oktaviani said...

yup.. tapi yang bikin sebel itu mentang-mentang sekolah nggak penting, trus pada nggak belajar. cukup cari duit aja. padahal kan hidup nggak cuma buat cari duit.
mereka menyepelekan pendidikan.
mindset masyarakat, gimana ngubahnya ya mas?

yeyeye, bajak laut dg mata sehat :)

Anonymous said...

Bedakan pendidikan dengan sekolah. Belajar dengan sekolah. Bagi mrk yg berhenti berproses dlm kehidupan, belajar tumbuh, maka kematian lebih baik utk mrk. Mrk inilah yg disebut Rasullullah bagai mayat hidup yg berjalan di muka bumi. Mentalitas mencari uang hanya utk memenuhi kebutuhan2 yg bersifat sekunder bahkan tersier juga bukanlah tindakan mulia. Disnilah peranan spiritualitas (ideologi, religius dan orientasi). Sekolah salah satu tempat untuk mendapatkan akses ilmu pengetahuan. Belajar bs di mana saja dan dlm bentuk apapun. Bagi mrk yg sejak dini ingin mencari penghasilan (lebih mulia drpd istilah mencari duit)sesungguhnya justru membutuhkan ilmu pengetahuan lebih banyak dan proses belajarnya lebih komprehensif. Bs menempuh jalur akademis (kuliah manajemen, akutansi, perpajakan, marketing etc) atau menempuh jalur informal melalui mentoring bersama praktisi atau komunitas. Jadi, belajar dan pendidikan merupakan proses seumur hidup. Untuk mengatasi dan merubah mindset malas tentu saja membutuhkan metode yg komprehensif. holistik. Fenomena larisnya kelas2, seminar, program acara motivasional harus didukung program lainnya mengingat energi motivasional bersifat sementara. Untuk itu penting sekali membuat kelas2 kreatif dan kelas yg menumbuhkan minat bakat agar energi yg bangkit utk entepreneurship bs tersalurkan. Melalui sistem yg terintegrasi, holistik, menyeluruh bukan saja skill meningkat, motivasi kuat melainkan juga nilai hidup juga berkembang. Kehidupan memiliki tujuan dan nilai hidup. Visioner. Mencari uang dan mencari ilmu bkan hanya memenuhi kebutuhan personal melainkan juga bernilai sosial (personal social responsibility).

Rizky Oktaviani said...

pendidikan emang beda sih ama sekolah. tapi, kalo calon dokter nggak sekolah kayak gimana ya? hehehe...
mungkin yang bikin sebel itu sistem sekolahnya. terlalu mendewakan akademik dan sains. keterampilan agak dikekang, kesempatan untuk menemukan hal-hal baru dan mencari pengalaman jadi berkurang gara-gara brainwashing "nilai dan rangking adalah hal terpenting saat sekolah." meskipun nggak semua sekolah kayak gitu sih, kayak sekolah alam itu kan ada point plusnya, ngajarin survival.

apalagi SMA. kalo nggak mengasah keterampilan sendiri, nggak bakalan punya "modal hidup". tapi ya itu, waktu buat mengasah ketrampilan dibatasi banget ama kebijakan yg dibuat sekolah. apalagi guru-guru masih monoton dalam penyampaian materi. nyusun RPP dan silabus pun masih banyak yg kacau balau. jadi, manajemen waktunya amburadul. ketrampilan siswa kurang diperhatikan. yg penting materi disampaikan. duh, kompleks banget ternyata.

Anonymous said...

Mulailah belajar utk holistik. menyeluruh. kl terkotak-kotak selamanya menjadi bocah hehehe. Dokter, akademisi memang membutuhkan gelar akademis yg bs dipercaya. bahkan bidang apapun kl ingin menjadi pegawai harus memiliki gelar kesarjanaan dengan nilai tertentu. namun, ada kehidupan lain yg tdk membutuhkan gelar akademis. Tetapi tetap membutuhkan ilmu pengetahuan. Ingin menjadi atlet profesional akan sangat terlambat bila mmemulainya setelah lulus sekolah dasar dan menengah. Walo sekolah khusus dibuthkan sebagai contoh. SMA itu memang jenjang pendidikan yg harus ada kelanjutannya yaitu kuliah. Mrk yg memilih SMA namun memiliki keterbatasan utk melanjutkan merupakan contoh kesalahan berpikir para orangtua. Sekolah kejuruan merupakan pilihan bila orangtua sadar dengan kemungkinna keterbatasan yg dimilikinya. Lantas bagaimana dgn lulusan SMA yg terbatas dananya? Universtas terbuka merupakan pilihan terbaik. Artinya segala sesuatu itu ada jalannya. Bandingkan dengan negara maju seperti Jerman. Pemilihan dan seleksi berdasrkan kepribadian tlah dilakuakn sejak dini dan menjadi referensi apakah seseorang cocok utk menjadi akademisi atau praktisi. maka masing2 memiliki panduan apakah akan melanjutkan ke universitss atau akademi yg jenjangnya D3 dan D4. masing2 dibutuhkan dan masing2 mendapat tempat secara sosial. Sangat berbeda dgn Indonesia yg menganggap kejuruan kalah gengsi dengan sekolah umum dan S1 lebih utama dibanding D3. Inilah bedanya cara berpikir era industri dgn era informasi. Jadi, cara berpikir ikita, yg peduli ini harus melihat secara lengkap. Harus bs membedakan mana masalah personal dan mama masalah sosial. masing2 membutuhkan solusi yg berbeda. So, kl seorang Rizki ingin menempuh jalan socialentepreneur,yang utama adalah menemukan jalan kehidupan masing2. Visi kelahiran di dunia ini. lalu pelajari ilmu2 sosial, pelajari dengan cermay teknik2 rekayasa sosial (social engineering) dan lakukan aksi sesuai dengan persoalannya masing2. Selamat berjuang

Rizky Oktaviani said...

pengen banget dari kecil udah di tes minat bakat jadi nggak usah bingung-bingung nentuin masa depan. Sekarang aja masih belum paham -_-

sama dong kayak penjurusan IPA ama IPS di SMA. Yg nilainya bagus masuk IPA, yg kurang bagus masuk IPS. Unlogic.

aku belum paham maksud kalimat2 "So, kl seorang Rizki ingin menempuh jalan socialentepreneur,yang utama adalah menemukan jalan kehidupan masing2. Visi kelahiran di dunia ini. lalu pelajari ilmu2 sosial, pelajari dengan cermay teknik2 rekayasa sosial (social engineering) dan lakukan aksi sesuai dengan persoalannya masing2."

:D tambah bingung deh

Anonymous said...

Gimana sich ni bocah? Katanya mo jd aktivis sosial. Istlah kerennya itu socialpreneur. Selain membuat dan menjalankan bisnis yg profit oriented juga melakukan aktivitas sosial secara sistematis. Untuk bs melakukan semua itu, sebagai pribadi loe kudu tau dulu siapa dirimu. tanpa itu, apa yg akan loe lakukan hanya ikut2an atau hanya menjadi penggembira. Atau dalam banyak kasus, pendamping atao mentor justru yg terjerumus, terpengaruh seperti relawan dlm kasus anak jalana atau narkoba. Bs juga mmengalami kelelahan psikologis saat menjalankan aktivitas sosial dan lupa akan proses pertumbuhan diri. Emang blm sadar, apa yg membuatmu melakukan sesuatu, mengambil keputusan sesuatu, cara pandangmu, kepedulianmu itu berasal dr mana? datang dr langit? Itu semua merupakan potensi yg tertanam di alam bawah sadarmu. Makanya semakin mengenal diri akan semakin peka thd semua itu dan mampu mengakses potensi itu menjadi sutau tindakan nyata tanpa harus kehilangan dirimu sendiri. Untuk mampu berkarya yg memberdayakan orang lain, terlebih lagi suatu masyarakat secara lebih luas itu butuh ilmu. nah, ilmu2 sosial salah satu bekal terutama social engineering. Yg di dalamnya terdapat materi2 yg memberitahukan ttg persoalan personal dan persoalan sosial dan mampu membedakan keduanya. Misal: apakah anak jalanan maslah personal atau masalah sosial? Banyaknya anak usia sekolah putus sekolah masalah personal atau sosial? tanpa mampu mengenali penyebabnya dan akar persoalannya, tindakan yg diambil akan salah sasaran. Pemetaan problem dan problem solving thd masalah yg ada seperti pentagn asset sangat membantu bila kita akan melakukan suatu tindakan. Teori2 sosial yg ada utk melakukan perubahan yg bs dipakai dan diterapkan dan juga utk memahami bagaimana perubahan itu bs dilakukan secara efektif sesuai dengan segmentasi yg dituju sehingga aktivitas yg kita lakukan tdk hanya bersifat belas kasihan melainkan lebih berkelanjutan. Gitu, bocah!

Anonymous said...

Loe tau drmana pola pikir yg cerdas itu yg eksakta? Belajar sejarah. Itu yg dinamakan pola pikir post kolonialisme. Peninggalan era penjajahan. Utk menghindari munculnya perlawanan sosial hingga revolusi sosial, di Indonesia yg pertama dibangun adalah kampus2 teknik dan kedokteran. Bukan ilmu2 sosial. Supaya mindset antikemapanan, pertanyaan2 ttg hidup redup dan fokus pd pengembangan diri utk mencari nafkah belaka. Ilmu sosial, humaniora, seni terlarang krn mrk membebaskan dan mendengarkan kegelisahan hati. Waktu itu, agamalah (melalui ulama2 visioner) menjadi sumber inspirasi utk mempertanyakan hidup dan melakuan perjuangan hingga perlawanan. tp skrng agama juatru dogmatis. So, pahami, bocah. dengan ilmu tentunya dan terus belajar selain disiplin akademismu. Ini yg akan mendekatkanmu dengan legenda pribadimu. Visi kelahiranmu.

Rizky Oktaviani said...

iya, udah tau kok kenapa SMA men-dewa-kan IPA...

tapi kok aku ngrasa masih labil yo mas. kadang ngerasa udah ketemu sama "passion" di suatu bidang yang bisa jadi tujuanku. tapi beberapa saat kemudian nemu bidang lain lagi. jadi ribet mau nentuin visi tambahan.

mas, tau bipolar nggak? psikologis nih..

Anonymous said...

Bipolar tau. mahasiswa gw ada yg gini. Kl loe bukan bipolar. Loe belum mengenal diri loe sendiri. Belum menjalani sepenuhnya dlm kesadaran. juga,karn loe blm mengerti dan belum mampu mengakses sumber energi utam yaitu Ilahi sehingga mudah kehabisan energi saat berbagi terlebih dengan mudah kehabisan energi saat berhadapan dan berseberangan dengan dreamkiller yg memiliki kuasa dlm hidup loe. masih bocah sich...lalalalala

Rizky Oktaviani said...

cara ngatasin bipolar gimana sih?? serem e liet temen kayak gitu..
iya aku nggak bipolar cuma lebay doang.
hahahaha, iya kah? tau darimana aku sering kehabisan energi. kok aku nggak sadar sih.
dreamkiller itu penyemangat hidup ( weeeekkk ).

bocah lagiiiiii >__<

Anonymous said...

Nggak bakalan sadar kl energi dihisap. yang ada hanya kelelahan, lalu membicarakan sang dreamkiller terus menerus hingga jatuh pd titik kecanduan. Sering disebut hubunga pasien-dokter. Seringkan ngelihat yg kayak gini.

Rizky Oktaviani said...

kok mirip aku =_=

Post a Comment

Pages