image

Seteguk Brotowali Dalam Segelas Masa SD

Mungkin sebagian menganggap ini aib. Namun bagiku, ini adalah sebuah cambukan perubahan. Yea, aku memang orang yang yang percaya dengan mazhab “the power of kepepet”. As you know, orang yang baru bisa berubah dan kreatif saat di bawah tekanan. Alias  “under pressure”.

Ini kisah pahitku yang selama ini hanya terpendam dalam memori lama. Sudah usang, banyak sarang laba-labanya, gelap, dan pengap. Pintu memori itu memang tak ingin kubuka. Sebab, terlalu banyak perih yang tersisa (ceileh, dramatis banget). Tetapi, ini merupakan bukti bahwa segala sesuatu yang terlihat mustahil untuk dilakukan ternyata mampu untuk dilakukan.

True story. Not a a fairy tale. It’s mine. My story.


Sebelumnya terima kasih kuucapkan kepada ‘teman-teman’ SD ku. Maaf, aku sempat membenci kalian. Tapi, ternyata cemoohan kalian dulu, membawaku pada sebuah kesadaran bahwa : kelemahanku memang tidak bisa dihilangkan. Namun, beralih fungsi menjadi transformasi kekuatan dan kelebihan baru.
And the story begins..

Sekolah itu, dulunya hanyalah ruang-ruang tamu di rumah penduduk desa. Kelas satu ada di rumah seorang tetanggaku, kelas dua dan kelas tiga berada di sebuah rumah kosong, kelas empat sampai enam aku tak ingat di mana letaknya. Yang jelas, saat aku kelas 4, kami sudah menghuni gedung sekolah baru. Gedung dengan dua lantai yang belum di cat, atap masih berlubang, dan belum di keramik.

Itulah sekolahku, SD ku (aku ragu untuk menuliskan “SDku tercinta”).  Setiap hari, selalu ada kisah layaknya anak SD pada umumnya. Sahabat, permusuhan, ulangan umum, pembagian rapor, geng, cinta monyet, semua lengkap diputar pada scene masa-masa SD.

Satu hal pahit yang tidak semua orang alami adalah : aku terkena bullying (kalau kata Sm*sh : aku dibuli :D). Tidak semua fisik, meskipun sering. Namun, lebih ke psikologis. Terintimidasi, dikucilkan, diremehkan, diejek, dimusuhi, hampir dijebak di kamar mandi oleh temanku sendiri, semua pernah aku alami. Hanya karena aku cedal (tidak bisa berkata “r” secara jelas) dan punya kelemahan fisik, mereka merasa bahwa aku berhak diperlakukan seperti itu.

Terlihat menyakitkan, dan memang benar-benar menyakitkan. Kelemahan fisik yang aku punya, ternyata dianggap sebagai sebuah dosa yang tak terampuni. Aku pantas dihukum. Hanya karena aku tidak kuat berlari lama saat olah raga, hanya karena aku sering pingsan saat upacara, hanya karena aku sering sakit-sakitan, dan yang jelas karena aku cedal. entah, bagaimana dulu aku bisa bertahan dengan semua cacian itu. Yang jelas, aku hanyalah seorang anak SD. Anak perempuan yang hanya bisa menangis bila diejek. Atau sebatas bercerita kepada ibuku. Namun, hamper semua kusimpan rapi di dalam hatiku. Berjuta file ejekan dari teman-teman ku simpan sendiri. Mungkin dari situlah karakterku terbentuk. Pendiam dan cenderung tertutup.

Dahulu, kelasku terdiri atas 4 murid perempuan dan 15 murid laki-laki. Bisa ditebak, bahwa kaum Adam lebih menonjol (kiamat masih jauh kayaknya) dan mereka adalah pelaku utama bullying. Sebenarnya bukan hanya aku yang jadi korban, tapi yang paling banyak mendapat jatah porsi ‘kekerasan’ ya aku.
4 murid perempuan, termasuk aku, jangan dikira selalu kompak. Justru hampir setiap hari kami bermusuhan. 

Aku bahkan hamper saja dikunci dari luar di kamar mandi oleh ketiga temanku sendiri. Entah apa salahku waktu itu. Itu sejenis tradisi bermusuhan. Mungkin mereka sering menonton sinetron geng-geng remaja yang suka bermusuhan. Lalu, diaplikasikan. Malangnya, aku yang kena objek penerapan :D

6 tahun lamanya aku bertahan dengan segala cemoohan mereka. “ringkih”, “cengeng”, “celat”, dan segala macam kata ejekan itu terasa menusuk bahkan sampai sekarang. Sungguh, aku tidak ingin punya musuh dan dendam pada mereka. Namun, hatiku ternyata memberontak. Ia tersakiti. Aku pasrah. Bahkan aku pernah berpikir bahwa aku bukan anak normal. Aku satu-satunya orang yang tidak bisa berkata “r” secara jelas di dunia ini (maklum, masih anak SD)

Kata beberapa guru dan teman-temanku, aku tergolong anak pandai di kelas. Pandai dalam artian unggul di bidang akademik. Mungkin itu salah satu kelebihanku. Sungguh, aku tidak bermaksud sombong. Hanya saja, Alloh Maha Adil ‘kan?

Kelas 6 SD, aku ingin berubah. Namun, aku menemukan jalan berubahku saat SMA. Aku yang dicap lemah fisik oleh teman-temanku, nekat ikut ekskul Karate. Gila. Awalnya aku memang dipaksa oleh seorang teman (thanks Oneng ^,^). Namun, lama-lama aku ketagihan. Aku mulai menikmati efeknya. Penyakit tifus yang muncul saat aku SMP dan setiap tahun selalu ‘kumat’ pun lenyap. Aku merasakan perubahan itu. Aku merasa lebih kuat, lebih sehat, dan lebih tinggi :D

Olah raga bukan lagi menjadi mata pelajaran yang kutakuti. Yang aku takuti adalah gurunya yang galak :P . aku sadar, aku sudah menjadi kupu-kupu.

Bahkan, aku –atas ijin Alloh SWT- berhasil mendapat 2 piala dan medali perak dalam pertandingan karate. Tak terduga. Seorang anak yang dulunya lemah fisik, bisa ikut karate bahkan bisa mengikuti kompetisi? Dan menang? Sekali lagi ini bukan sombong. Ini bukti bahwa Alloh selalu punya kejutan indah dibalik pahitnya hidup yang terasa.

Lalu, soal akademik. Sebenarnya, aku merasa tidak terlalu unggul. Bahkan, di beberapa mata pelajaran, nilaiku selalu pas-pasan (apalagi bahasa Jawa :D). namun, setidaknya, 5 besar hampir selalu aku pegang. Meski aku merasa bodoh. Sungguh, aku bahkan dulu pernah mendapat nilai 3 saat ulangan matematika.

Selain itu, mengenai masalah “cedal” yang aku miliki, justru sejak SMA aku sangat bersyukur memilikinya. Ternyata, orang-orang cedal (di Indonesia mungkin) cenderung memiliki pronounciation yang bagus saat berbicara dalam bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Dan itu terbukti. Aku punya teman-teman senasib alias “cedal”. dan mereka memiliki kelebihan di atas. Subhanalloh, Alloh memang Maha Adil J (miss you cecil, ana, pitra J we’re just the same).

Aku dulu berambisi untuk mengalahkan teman-temanku waktu SD. Aku punya tekad dan mimpi bahwa aku pasti lebih sukses dari mereka. Ambisi itu sungguh dekat dengan dendam. Lama-lama rasa itu hilang sejak aku sadar bahwa hal itu hanya sia-sia belaka. Biarlah apa yang aku lakukan, apapun itu, hanya karena Alloh semata.

Aku tak pernah mendoakan orang-orang yang menyakitiku dengan do’a yang jelek. Namun, Alloh Maha Mengetahui. Ia tau bahwa ada hambaNya yang dianiaya. Ia tahu dan menunggu. Dan aku memang percaya bahwa setiap apa yang kita lakukan, pasti mendapat balasan. Entah kebaikan, atau keburukan. Siapa yang menanam, pasti mengetam.

Dan hal itu terbukti.

Saat aku mengingat-ingat dan berhasil mencari info mengenai teman-teman SD ku, hatiku miris. Banyak dari mereka yang memiliki “penurunan” dalam hidup. Sekolah tak diurus, tak naik kelas, terjebak pergaulan bebas, dan lainnya. Yang melanjutkan kuliah pun bisa dihitung dengan jari. Sekitar 4 atau 5 orang saja. Ironis.
Sekarang, aku sudah tak tahu lagi harus berbuat apa pada mereka. Memang kadang masih terselip rasa benci. Namun, bukankah Rosul yang dilempari batu dan kotoran pun tak pernah membalas? Kenapa aku tak bisa memaafkan seperti dia?

Jadi, jika ada teman-temanku SD yang mungkin membaca tulisan ini. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Tulus dari hatiku yang terdalam. Terima kasih atas ejekan dan cemoohan kalian. Kalau kalian tidak melakukannya, mungkin aku tidak bisa mengembangkan potensiku. Kalianlah yang menemukan kunci kelemahan dan mendorongku (meski dengan cara kasar) untuk menemukan kelebihanku lebih banyak. Kalian membuatku melakukan sebuah transformasi kehidupan yang begitu indah.. terima kasih. Maaf, aku sempat membenci kalian. Aku berdo’a, kalian selalu dalam naungan hidayah dan kasih sayangNya J
 


3 comments:

RANGERMERAH said...

wah sangar... semua indah pada wktunya... tuhan punya rencana untuk kita walaupun mungkin pahit di awalnya. kalo gak melalui pahit dulu, kita gakkan belajar. semangat mbak :)

Rizky oktaviani said...

iyo thom, super sekali :D
semua akan indah pada waktunya.. ;"")

ariftaka said...
This comment has been removed by the author.

Post a Comment

Pages