image

JEJAKKU (MUNGKIN) BUKAN JEJAKMU




Kembali lagi ku putar sebuah video berdurasi 7menit 24 detik itu. Video yang dulu sempat membuatku menangis terharu. Sebab, apa yang digambarkan dalam video itu benar-benar pernah terjadi dalam perjalanan hidupku yang masih pendek ini.

Video yang dibuat oleh Danang Prabowo, alumni ITB angkatan 2004. Di video itu ia mengungkapkan bahwa ia menuliskan 100 mimpinya di lembaran kertas. Bukan mimpi biasa. Mimpi menjadi Mapres, kuliah di luar negri, pergi ke Jepang, dan sebagainya. Meski ditertawakan dan dianggap mustahil, toh ia berhasil mewujudkan semua mimpi-mimpi yang ia tulis.

Aku yang dulu juga pernah bermimpi besar, sempat diremehkan oleh banyak orang, termasuk teman dekatku sendiri. Aku dirasa tidak pantas dan tidak mampu untuk melakukannya. Tapi, Alloh Maha Besar. Dia mewujudkan mimpi-mimpi besarku.


Ada beberapa hal yang mengusik pikiranku. Ada sebuah ungkapan yang sepertinya ditujukan pda orang-orang sepertiku. Orang-orang yang memiliki keinginan untuk berprestasi. Prestasi yang dimaksud tentu saja identik dengan piala dan penghargaan lainnya. Aku tak munafik. Ungkapan itu adalah (kurang lebih) :  bermimpi untuk berprestasi? Prestasi itu tidak hanya piala dan piagam. Tapi, cukup hanya Alloh yang tau.

Hehehe. Aku tak sengaja mendengar ungkapan itu dari salah seorang teman yang cukup terusik juga. Memang benar, prestasi itu tidak hanya piagam, piala, atau penghargaan lainnya. Mungkin, selama ini kita hanya men-share mimpi-mimpi kita yang terkait dengan akademik. Namun, mereka tidak tau bahwa kita juga punya mimpi yang lain juga.

Bukankah mereka sendiri yang berkata “cukup Alloh yang tau” ?

Kalau begitu, mimpi kami yang lainnya memang cukup hanya Alloh yang tau juga. Kami hanya men-share mimpi kami terkait dengan akademis untuk memberikan motivasi pada diri sendiri dan teman-teman. Agar kami selalu produktif berkarya. Misalnya produktif menulis karya tulis, artikel, opini, dan sebagainya. Sebab, masih minim karya yang dihasilkan oleh para mahasiswa yang katanya intelek ini.

Salahkan jika kami berbuat seperti itu?

Kadang sempat bersu’udzan juga. Orang yang berkata seperti itu justru belum terlihat karya dan produktivitasnya.

Aneh jika ada orang yang belum “berprestasi” tapi berkata bahwa “ah, prestasi itu cukup Alloh yang tau”.

Namun, jika orang yang berkata seperti itu telah memiliki berbagai “prestasi”, maka ia adalah sosok luar biasa. Sebab, apa yang dicapainya dirasa bukanlah apa-apa dibandingkan dengan berprestasi di jalan Alloh. Intinya, zuhud coy !Subhanalloh

Maka, dalam setiap ucapan atau nasihat, diperlukan introspeksi. Bahasa kasarnya “ngaca dulu deh”.
Siapa saya? Pantaskah saya menasihati seperti ini? Padahal saya sendiri belum melakukan yang terbaik…

Yups,
Itu memberikanku pelajaran bahwa : be careful on what you say and what you share.

Ada lagi, sebuah kritik yang menurut saya hanya sebuah ungkapan “iri” pada orang lain. Kadang, kita membaca kisah-kisah orang sukses, atau orang-orang yang berhasil mewujudkan mimpinya. Namun, ada komentar negative yang menyebutkan  : “haruskah kita punya pengalaman dahulu, lalu berkisah kepada orang lain tentang pahit hidup kita, usaha kita, dan keberhasilan kita?

(Intinya, komentar itu berisi bahwa kita adalah orang yang pamer kalau bercerita tentang kisah hidup kita terkait dengan keberhasilan yang kita peroleh).

Aku akan menjawab : “tentu saja.”

Bagaimana kita bisa berkisah kalau kita belum melakukannya? Itu kan namanya pembual. Do it then you can tell it. Or don’t talk at all.

Memang dalam berkisah butuh teknik agar tidak terkesan pamer atau show off. Sebab, banyak orang sensitive yang mengaku menjadi pendengar baik. Padahal, setiap kisah atau keberhasilan yang kita ceritakan, bagaikan jarum-jarum yang menusuk-nusuk hatinya. Cekiiit cekiittt..  Na’udzubillah

Kadang, segala sesuatu yang kita lakukan memang salah di mata orang lain. Namun, percayalah. Jika yang kita lakukan sudah sesuai dengan syariat dan aturan-Nya, maka Insya Alloh, itu adalah kebaikan. Biarkan orang berkata apa, toh yang bertanggung jawab 100 % terhadap diri kita adalah kita sendiri.

Memang ada saatnya kita membutuhkan nasihat dari orang lain. Sebab, we’re just a human. Kita hanya manusia. Kadang salah melangkah, dan butuh tuntunan arah.

Kalau kita merasa berbeda dengan orang lain. Berbahagialah. Jika kita harus bekerja untuk membiayai kuliah kita, sementara orang lain tinggal menengadahkan tangan kepada orang tua mereka, berbanggalah. Jika kita hidup sederhana sedangkan orang lain bermanja-manja dengan fasilitas pemberian orang tua, bersyukurlah.

Sebab kita berbeda. Jejak kita mungkin bukan jejak mereka, dan begitu pula sebaliknya.

Hanya satu pedomannya agar kita merasa yakin dengan jejak kita adalah :
Pastikan bahwa apapun yang kita lakukan sesuai dengan syariat.

Jika sudah begitu, yakinlah Alloh selalu membimbing kita.
Jika ada orang yang mengkritik kita, itu tandanya ia peduli dengan kita. Ambil yang positif, buang yang negative.
This is a life. There’s always haters and lovers. It’s the law. Just enjoy it and be grateful.
Remember this one :
Alloh will never, EVER!, leave you alone when people will.

DON’T JUDGE A BOOK FROM ITS COVER.
READ IT INSIDE THEN YOU CAN UNDERSTAND.

2 comments:

Anestiya noble said...

great... jadikan prestasi n kebanggaan itu adalah hasil dari suatu jerih payah, bukan Tujuan. kalo tujuannya uma itu yg kita dapat hanya itu..heheh

Rizky oktaviani said...

betul mbak anes :D
tujuan hanya Alloh semata.. hehe

Post a Comment

Pages